Widgetized Footer

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Aug 22, 2013

Republik (m)Udik



Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini; Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan; Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkuk hm...; Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar, kau tetap setia.

”Titip Rindu Buat Ayah” dari Ebiet G Ade tiba-tiba membawaku melayang selaksa peristiwa. Beribu beban dan cobaan tak membuatnya rapuh. Ayah,  dalam perjalanan ini kurindu menyapa. Zamanku memang berbeda dengan zamanmu. Beban yang harus dipikul pada masaku bukan lelah menguras keringat karena mencangkul sawah. Bebanku karena memikirkan dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kenaikan listrik, kenaikan harga daging, kenaikan harga beras, dan yang paling pahit kenaikan biaya mudik.

Jangan pula bersedih jika melihat  anak-anakmu seusiaku tertatih karena beban itu. Idul Fitri ini, kami tetap bersimpuh meminta maaf dengan segala keterbatasan. Tegakkanlah dagumu. Jangan sekali-sekali tertunduk kala melihat harga-harga setinggi langit itu. Ini zamanku, bukan zamanmu. Ayah, kita adalah rakyat. Seberat apapun beban menjadi rakyat, engkau tetaplah seorang ayah, dan aku juga seorang ayah. Sebagai kepala rumah tangga, tak pantaslah tangis bercucuran di sepanjang jalur mudik. Usaplah air matamu kala cucu-cucumu datang memeluk dari belakang.

Hidup di republik ini bukan ringan seperti zamanmu. Punggungmu yang hitam karena pahatan sinar sang surya, seolah menggambarkan kehidupan petani yang tak pernah merdeka. Tiga bulan menabur benih padi nyatanya panen habis dalam satu bulan. Tak seperti zamanmu, uang ratusan ribu pun cukup membeli sapi sepasang.

Kini uang ratusan ribu rasanya hanya cukup membeli buntut sapi. Katakan pada ibu, tak usah memasak rendang daging untuk kami. Beban ibu sudah terlalu berat. Sejak zaman Pak Soeharto hingga zaman Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), entah berapa kali ibu jatuh bangun karena harga bumbu-bumbu dapur itu. Bayangkan saat republik ini akan merayakan Lebaran, harga bawang putih menembus angka yang tak pernah dibayangkan yakni Rp60.000/kg.

Lupakan kerupuk bawang atau sambal korek yang bumbunya bawang putih, garam, dan cabai itu. Ibu, cukup sayur pakis yang bapak petik dari pinggir sungai. Jangan pedas-pedas karena pemerintah tak pernah becus mengatur harga cabai. Warna sayur pakis yang hijau tua sudah cukup mengusir lelah kami dari perjalanan jauh.

Ibu, jangan tertunduk lesu. Senyumlah meski dapurmu sudah sepi dari daging dan cabai. Jangan pernah meminta belas kasihan para penggede negeri ini. Muka mereka sudah bebal. Lubang telinga mereka sudah tembus dari kiri ke kanan. Sudah beribu-ribu kali ditulis koran namun mereka tak peduli.

 Persiapan mudik Lebaran sudah diliput beratus kali, namun jalanan di pantai utara Jawa itu masih rusak. Republik ini masih udik (pengertian, lawan kota) dalam menyiapkan mudik. Buktinya, pemerintah seperti keledai yang masuk di lubang yang sama. Macet dari tahun ke tahun, masih di mana-mana. Perjalanan Surabaya-Jakarta yang dulunya bisa ditempuh 25 jam kini nyaris 48 jam.

 Bandingkan dengan Kota Busan, Korea Selatan. Negara yang merdekanya hampir sama dengan bangsa Indonesia ini relatif lebih maju. Suasana kotanya nyaman, jalanan kota  bersih dan mulus. Kereta api mereka juga nyaman dinikmati. Pendeknya, sistem transportasi negeri ginseng ini sangat baik. Kita? Meski sudah sama-sama 68 tahun merdeka, rasanya masih kampungan alias udik. Monorel yang katanya standar negara maju baru akan dibangun di Jakarta 2013 ini. Belum lagi penataan kota yang masih semrawut. Warga-warga di pinggir rel dan sungai seolah menjamur. Pemandangannya seperti negara yang rakyatnya miskin semua.

Ayah, ibu, anakmu tak ingin terlena mengeluh tentang kesemrawutan mudik. Aku ingin mudik seperti orang-orang Amerika Serikat merayakan hari nasional, “Thanksgiving”. Mereka merayakan dengan suka cita hari Thanksgiving, pada Kamis keempat bulan November di Amerika Serikat, atau pada hari Senin kedua bulan Oktober di Kanada.  Mudik mereka naik pesawat terbang, atau naik kereta api super cepat sehingga jarak Jakarta-Surabaya bisa ditempuh hanya tiga jam. Jalan bebas hambatan benar-benar jalan yang tidak ada hambatannya. Apa daya, kita mudik dengan daya seadanya.

Mungkin tidak hanya aku, para pemudik itu juga ingin pulang dengan kepala tegak tanpa memikirkan beban harga sembako, BBM, dan listrik yang mencekik leher. Inilah realita yang harus dihadapi di republik ini. Rakyat harus bersabar. Rakyat harus berzikir sepanjang jalan, dan rakyat harus bersyukur agar bisa tegak berdiri dengan segala himpitan beban. Barangkali itulah inti pelajaran mudik, yakni perjalanan cinta menuju kampung halaman dengan penuh kesabaran.

Bukan sekadar hura-hura holiday travel. Bagiku mudik adalah perjalanan menggapai maaf dan cinta kepada orang tua, dan kerabat. Tak peduli hujan, panas, lelah dan kantuk, semua diterjang demi bertemu kerabat di kampung halaman. Namun apabila kaki tak kuasa melangkah, tiket bus tak terjangkau, dan tiket KA sudah lewat, jangan gundah gulana saudara-saudaraku. Masih ada telepon dan short messages service (SMS).

Namun apabila pulsa handphone tak terjangkau, jangan khawatir, sampaikan maaf lewat penguasa jagat. Semoga kita diberi keselamatan saat tiba di kampung halaman dan kembali bekerja. Selamat Idul Fitri 1434  hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Dirgahayu Republik Indonesia ke 68. Merdeka..!  

Jun 30, 2013

Salat Subuh Yuk

Pagi nan hening. Lima menit kemudian puja dan puji berkumandang. Jarum jam berdentang. Gendang telinga serasa tertantang. Saat semua terlentang, suara rantai dan pagar gemerincing. Kasur empuk semakin nikmat dipeluk. Guling memanjang semakin enak untuk menopang. "Lima menit lagi ah," begitu pikiran melayang. Mata di tubir kantuk. Azan berkumandang jauhnya serasa di padang. Puja dan puji semakin sayup terdengar. Tak terasa iqomat tinggal lamat-lamat. Mata semakin tak terbendung. Dia terjerumus ke dalam lubang tak berujung. Sebentar kemudian slide tentang kematian bergerak teratur. Arak-arakan keranda mayat berjalan merambat. Sekira lebih dari seribu orang berjalan lambat. Tangan2 kekar memegang keranda erat. Bibir mereka terkatup lamat2 berzikir padat. "Laillahaillah," demikian seterusnya. Jarak antara masjid dengan makam hanya lima ratus meter. Hatiku tersentak. Bibirku kelu. Namun kaki ikut maju dan berlari. Tanganku meski tak kekar menyambut keranda berisi jenazah. Ternyata lebih pendek dari pengusung keranda lainnya. Aku tak peduli. Kakiku terus berlari. "Suatu saat ku kan mati, seperti jenazah yang kupikul," kataku dalam hati. Makam itu tinggal 10 meter tapi tangan serasa tak kuat lagi. Belum sempat aku pindahkan, kaki tersangkut sarung. Bukk tubuhku jatuh terguling. "Pak-pak ayo bangun. Salat subuh yuk," kata istriku membangunkanku. Rupanya aku terjatuh dari tempat tidur. Salat subuh yuk sebelum disalati..

Jun 28, 2013

Salat Jumat Yuk

Ketika khatib naik mimbar tidak boleh ada kata-kata protes. Perbincangan yang riuh rendah sontak senyap meski dari luar teras terdengar cekikikan bocah-bocah. Pandanganku beralih dari teras masjid ke atas mimbar. Sang khatib mulai berkhotbah.  Semua yang dikatakan Khatib, saat berkhotbah harus diterima, entah enak di hati atau tidak enak ketika dicerna. Namun di situlah proses instropeksi.
 Mungkin kata-katanya terlalu pedas dan menusuk, tetapi apa yang disampaikan seorang khatib hari ini terasa sejuk. Bukan karena AC yang dingin atau kipas angin yang berputar kencang, tapi karena yang disampaikan khatib ini merupakan adab hidup. Tidak ada kata-kata jihad membantai orang-orang yang sesat. Yang diungkapkan sebuah adab menjalani hidup dengan rendah hati.
Ya sebuah adab yang bisa dipegang mulai dari zaman dahulu, sekarang, bahkan satu abad yang akan datang. Juga bisa dipegang bagi yang masih anak-anak, remaja, dewasa, hingga para manula. Seperti apa? Mari membayangkan diri kita sebagai anak muda. Dalam pergaulan sehari-hari, anak muda akan sering bertemu dengan orang dewasa, orang berusia lanjut, dan anak-anak.
Adab apa yang harus dilakukan ketika bertemu dengan anak-anak? ”Jangan pernah meremehkan anak kecil,” kata khatib berusia sekitar lima puluh tahun itu. Anak muda harus menyadari bahwa dosanya lebih banyak dibandingkan anak kecil. Jika dilihat dari umurnya, dosa yang diperbuat anak kecil jelas lebih sedikit. “Jadi inilah pola berpikir positif. Menghargai anak kecil dengan posisinya sebagai anak kecil,” tandas khatib itu.
Bagaimana ketika bertemu dengan sesama anak muda? Tentu juga ada adabnya. “Yang lebih penting adalah menghormati ilmunya. Jangan dipandang sebaya atau umurnya sama,”tandas khatib bersuara serak itu. Dengan memandang positif itu, maka jiwa anak-anak muda akan teduh. Dia bisa menghargai sebaya dan menghormatinya sebagai teman, sahabat, dan tempat berbagi ilmu.
Tidak hanya menusuk-nusuk kalbu anak muda. Khatib yang mengenakan baju gamis putih itu juga meninju mental orang-orang dewasa.”Pun orang dewasa, jangan sekali-kali merasa besar karena memiliki jabatan tinggi atau sudah jadi bos. Pangkat hanyalah baju yang suatu saat dilepas kembali,” tuturnya.  Bagaimana menghadapi orang yang lebih tua? Tentu ada adabnya. Berpikirlah bahwa orang yang tua memiliki amal ibadah yang lebih banyak dibandingkan yang muda. ”Dengan demikian, kita mampu memetik ilmunya, ” imbuhnya.
Adab yang terakhir ini patut direnungkan bagi para teroris. Adab apa itu? Adab terhadap orang-orang yang berada di jalur sesat. Adab terhadap orang-orang yang berbeda jalan dengan umat islam. Adab ini mengajarkan berpikir positif bagi orang yang selama ini dipandang kafir dan jahil. “Jangan pernah berpikir mereka akan selalu tersesat. Berpikirlah positif,” katanya. Seperti apa? Pernahkan engkau berpikir kapan kematianmu tiba. Kita pasti tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.  Panca indera kita tidak akan tahu kapan malaikat maut akan datang mencabut nyawa. Teknologi paling canggih pun tidak bisa mengendus kapan kematian itu datang maupun pergi. Jadi, belum tentu orang-orang yang dikatakan sesat itu mati dalam kesesatan. Bisa jadi orang-orang yang selama ini di jalan Allah akan menimpa kebalikannya. Mati dalam keadaan tersesat. Sedangkan orang yang sesat itu justru mati di jalan Allah.
Tiada daya upaya, kecuali hanya dengan kekuatan Allah. Karenanya, perbanyaklah mengingat Allah, dan beramallah untuk kehidupan setelah mati. Semoga kita selalu mendapat ridha Allah SWT. (JT bening di barisan saf paling belakang)

Jun 18, 2013

Invictus

Out of the night that covers me; Black as the Pit from pole to pole;
I thank whatever gods may be; For my unconquerable soul
In the fell clutch of circumstance; I have not winced nor cried aloud
Under the bludgeonings of chance; My head is bloody, but unbowed
Beyond this place of wrath and tears; Looms but the Horror of the shade
And yet the menace of the years; Finds, and shall find, me unafraid
It matters not how strait the gate; How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate; I am the captain of my soul

Puisi, William Ernest Henley berjudul “Invictus” di atas menjadi inspirasi Madiba Nelson Mandela. Berkat puisi itu pula, semangatnya tak lekang meski ditahan 30 tahun di penjara. Ini bukan soal Mandela. Ini adalah persoalan menjadi ”invictus” atau yang tidak terkalahkan. Mandela dalam fim Invictus yang diilhami true strory mampu menjadi motivator ulung bagi tim rugby Afrika Selatan. Tim rugby yang dulunya kacangan berubah menjadi singa afrika yang haus kemenangan.
Ujian Mandela diawali saat iring-iringan kendaraan presiden melintas di samping lapangan rugby. Nada cibiran keluar dari seorang pelatih yang meragukan kepemimpinan Mandela. Pada adegan lain, sebagian partai pengusung Mandela menolak keberadaan tim rugby. Sampai pada pertemuan di tingkat komite atau KONI-nya Indonesia, partai pengusung Mandela akan membubarkan tim rugby. Mandela sampai turun tangan menyelesaikan masalah ini. Dia mendatangi kantor KONI, dan menegur dengan bahasa halus bahwa keputusan KONI itu salah. Singkatnya tim rugby Afrika Selatan bertahan dan bersiap menghadapi Rugby World Cup 2005.
Masalah belum tuntas semuanya. Sebagian besar anggota tim rugby yang didominasi kulit putih juga meragukan kepemimpinan Mandela. Mereka ragu bisa memenangkan piala dunia. Di sinilah kepemimpinan Mandela diuji. Dia lantas ”menculik” kapten tim rugby yang diperankan Matt Damon. Matt diundang ke istana presiden.
Meski tidak jelas targetnya, tapi Madiba memberi puisi dari William Ernest. I am the master of my fate; I am the captain of my soul. Begitulah jika Madiba menugaskan untuk merebut piala dunia. Puisi itu pula yang menjadi inspirasi tim Afrika Selatan menjadi juara dunia. Mereka mampu mengalahkan Selandia Baru dengan spirit, I am the master of my fate; I am the captain of my soul. Seberapa penting rugby? Olahraga ini bagi Mandela sangat penting untuk menyatukan bangsa yang pernah terpecah antara kulit hitam maupun putih. Dan hasilnya, saat tim rugby juara, semua orang bersatu di bawah bendera Afrika Selatan.
Indonesia boleh dibilang tertinggal dibanding Afrika Selatan. Mereka pernah menggelar 2010 Fifa World Cup South Africa. Pagelaran yang semula diragukan akhirnya sukses. Ribuan rakyat Afrika Selatan bangga meski timnya gagal menembus final piala dunia. Semangat inilah yang layak diambil dari Afrika Selatan. Kepentingan negara di atas segala-galanya. Dengan bersatu semua hal-termasuk merengkuh juara piala rugby- bisa dilakukan. Semangat inilah yang perlu diusung pada Kongres PSSI yang digelar Komiter Normalisasi PSSI di Solo, 9 Juli mendatang. Tentu ini bukan pekerjaan mudah.”Saya butuh orang-orang yang punya ini (tangan Agum Gumelar memegang pin merah-putih),” kata Ketua KN Agum Gumelar saat berkunjung ke kantor Harian Seputar Indonesia, beberapa waktu lalu.
Ya, Agum Gumelar memang benar. Tidak memandang remeh jiwa nasionalisme para pemilik suara PSSI, namun kongres mendatang memang rawan ditunggangi kepentingan uang. Jika kongres nanti deadlock lagi, maka sanksi dari FIFA segera menanti. Pembinaan pemain sepak bola usia dini kandas. Mata rantai kompetisi tersendat. Jika kongres tidak diselamatkan, mimpi ribuan pemain sepak bola Indonesia bakal kandas. Indonesia membutuhkan spirit ”Mandela” seperti saat dia mendukung tim rugby. Negeri ini membutuhkan kesederhanaan “Mandela” untuk meraih mimpi jadi juara dunia. Beda pemimpin memang beda gaya. Mampukah Pak SBY? I am the master of my fate; I am the captain of my soul. (edi purwanto)

Zikir, Pikir, dan Ukir

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan sejuta beban, mari rehat sejenak. Beningkan hati. Mari berpikiran positif. Jangan biarkan tubuh Anda ikut bergemuruh panasnya otak. Biarkan air wudu mendinginkan kepala hingga hati Anda tersentuh basahnya zikir. Semuanya biarkanlah waktu yang membuka tabir. Layaknya gemuruh gelombang samudera, biarkan aliran darah mengalir lancar. Rasakan denyutnya seperti gelombang samudera membuang sampah ke pantai. Pejamkan mata. Rasakan denyutnya hingga bulu kuduk merinding menyambut sang khalik merasuk ke dalam jiwa-jiwa. Mari berjalan laksana air mengalir di sela-sela bebatuan. Ada jalan di sana. Ada alur sungai yang menuntun kita. Biarkan dan ikuti air meliuk-liuk di sela bebatuan hidup. Memang ada ganjalan di sana. Tapi nikmatilah layaknya pemain kung fu melenturkan tubuh. Jalan terang terbentang di depan mata. Nikmatilah laksana engkau di tepi kolam. Berkaca pada kebeningan kolam. Melawan diri kenali was-was. Semua semakin keruh kala otak terpuruk di jurang frustrasi. Sering menangis sejatinya membuka diri. Ketenangan kolam tempat kita bercermin diri. Kawan, teman dan saudara adalah kolam yang memantulkan sikap dan tingkah kita sehari-hari. Mari rehat sejenak. Tenangkan hati dan berpikir positif. Rileks Mari perlahan menarik napas dan hembuskan beban berulang-ulang. Setiap beban ada jalan untuk berpulang. Buka indera kita satu per satu. Bila terhimpit beban jangan khawatir terjepit apalagi terkejut. Biarkan indera kita terbuka. Pikiran rileks menjaga keseimbangan. Hadapi dengan tegas laksana air bah turun dari bukit. Di sinilah idealisme bertemu realitas. Rileks kawan.

Sep 16, 2010

Ketika Petruk Kembali Fitri

Dua puluh tahun yang silam, sebagai bagian anak-anak yang tumbuh dan besar di Pulau Jawa, pengaruh tokoh yang satu ini memang luar biasa. Kehadirannya bersama para punakawan selalu membuat mata kami terbelalak di tengah kantuk yang semakin mendera.
Kadang mulut kami tertawa terbahak-bahak di tengah malam. Bahkan perut dibuat sakit ulah kocak sang dalang. Petruk dan saudara-saudaranya, Gareng, Bagong, selalu hadir dalam panggung keber wayang kulit.

Suara Semar Bodronoyo yang khas kawula alit dalam adegan goro-goro, selalu menarik untuk disimak, dimengerti dan dipraktikkan dalam lingkungan dolanan. Seperti goyangannya Petruk dengan tangan diangkat lantas menuding ke bawah. Kami artikan itu sebagai sosok perlambang rendah hati.

Atau goyangnya Bagong dengan tubuhnya yang cebol dengan tangan megal-megol. Sering kami menirunya dengan gerakan kocak sekadar bergurau antarteman. Kisah Petruk Dadi Ratu memang tak mendayu-dayu seperti cerita sinetron Ketika Cinta Bertasbih atau Cinta Fitri yang terus bersambung itu.Namun kisah Petruk seperti terekam antara sadar dan tidak. Dia bertutur tentang kehidupan dari kawula alit lantas jadi ratu gila kekuasaan dan kembali lagi jadi wong cilik.

Alkisah Dawala alias Kantong Bolong atau Dublajaya, mendadak tenar dalam kisah Ambangan Candi Spataharga/Saptaraga. Pentungpinanggul atau yang akrab disapa Petruk itu berhasil memegang pusaka nomor wahid, serat Jamus Kalimasada.

Dalam berbagai kitab di dunia maya alias internet, Dewi Mustakaweni, putri dari negara Imantaka, berhasil mencuri pusaka Jamus Kalimasada. Dia menyelinap dengan menyamar sebagai kerabat Pandawa, Gatot Kaca. Negeri para dewa pun geger mirip lakon Goro-goro. Para pemimpin dunia fana kelimpungan mencari kitab yang disebut-sebut sebagai Kalimat Syahadat dalam versi dakwah Sunan Kalijaga. Dan Petruk pun memberontak tatanan sebagai abdi dalem.

Sebagai anggota punakawan yang artinya teman yang paham majikannya, Petruk seperti ”memberontak” majikan. Apa niat Petruk jadi ratu pun tak banyak yang tahu -barangkali yang tahu hanya Allah SWT. Gelarnya juga sedikit aneh bin nyeleneh, yakni Prabu Welgeduwelbeh. Dalam versi lain, gelar Petruk adalah Prabu Kantong Bolong yang bertahta di kerajaan Lojitengara.

Bak peribahasa kere munggah bale, Petruk yang sudah berubah wujud gagah dan tampan susah mengendalikan jalannya roda pemerintahan. Namun berkat kesaktian dan kesufiannya, nama besar Petruk menggegerkan langit ketujuh alias kahyangan Junggring Saloka. Para dewa yang bertahta seolah tak terima melihat tindak tanduk anak asuh Semar Bodronoyo ini.

Keberadaan Petruk dinilai sebuah ”suara sumbang” yang harus dieliminir. Kalau dibiarkan terus, bisa-bisa paham kerajaan akan berubah menjadi paham demokrasi. Namun sayang perkiraan para dewa ini mbeleset. Semua yang ada di dekat Petruk dihajar habis-habisan.

Tidak peduli Kresna atau Baladewa, semua dibuat kelabakan. Bahkan konon Batara Guru sang penguasa kahyangan juga lari terbirit-birit. Sebentar kemudian, Petruk menyatu dengan para dewa. Dia menjadi penguasa di negeri para dewa, Junggring Saloka. Setelah para dewa angkat tangan dan kaki, ”pemberontakan” kawula alit terhadap tatanan mapan ini akhirnya badar.

Semar Bodronoyo yang turun tangan berhasil menyadarkan Petruk. Semar mengingatkan Petruk bahwa mengabdi kepada bangsa dan negara tidak selalu harus jadi ratu. ”Le thole, apakah kamu terhina jadi kawula alit. Apakah kamu merasa lebih mulia jadi raja?” begitu kata Kiai Semar. Prabu Kantong Bolong yang terkejut bukan main lantas menciut. Tubuhnya berubah wujud dari yang gagah dan tampan kembali seperti semula.

Petruk akhirnya mudik jadi wong cilik. Meski tak merayakan Lebaran, hatinya yang penuh angkara murka kembali Fitri atau suci. Petruk menjadi karakter pilih tanding dan tahan banting. Karakternya sebagai kawula alit seolah lahir kembali setelah jadi ratu meski sebentar.

Tindak-tanduknya kini mirip orang-orang yang merayakan Idul Fitri. Orang-orang yang mendapat karunia setelah digodok selama 30 hari puasa Ramadan, zikir, baca Alquran hingga salat malam. Dia memahkotai akhlaknya yang mulia sebagai wong cilik dengan saling meminta dan memberi maaf.
Ketika Petruk kembali Fitri, negeri para dewa Junggring Saloka jadi adem ayem. Darah Petruk yang dulunya bergelora bak gelombang tsunami menerpa Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kini seperti pantai dengan angin yang semilir. Panas hati itu teredam usai Idul Fitri.

Hati Petruk kini sudah di perantauan. Bedanya, Petruk tidak lagi tergoda rumah mewah seharga Rp2 miliar, cinta mobil sport ala Ferari, tanah seluas lapangan bola, maupun kekuasaan ala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Lakunya mirip sufi agung di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh sekitar pamer pahala dan aurat. Meski demikian, Petruk tak ingin menyepi ke gunung atau ke pantai. Dia adalah ksatria yang biasa menghadapi godaan wanita secantik Luna Maya maupun tubuh seseksi Cut Tari.

Baginya, hari ini adalah hari beramal bukan hari tanggung jawab. Sedangkan besok hari adalah hari tanggung jawab bukan hari untuk amal. ”Jadilah wartawan yang sufi, jadilah dalang yang sufi, jadilah Petruk yang sufi atau jadilah ratu/Presiden yang sufi.” Begitu pesan Kiai Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) kepada Petruk yang kini tampil dalam lakon Petruk Dadi Presiden.

Sep 6, 2010

Java Day, Program Ora Njawani

Sebagai orang yang lahir kemudian dibesarkan di tanah Jawa, program Java Day membuat saya terkaget-kaget. Sudah punahkah bahasa Jawa sehingga harus ada Java Day? Bahasa Jawa tidak akan punah. Apalagi jika penduduk Pulau Jawa yang merasa memiliki bahasa Jawa masih hidup dan beranak-pinak di Pulau Jawa.

Bahkan yang berada di luar Indonesia pun masih menggunakan bahasa Jawa. Budaya mereka juga masih menggunakan budaya Jawa yang dikenal sopan dan santun. Sebut saja Suriname. Negara yang dulunya bernama Guyana Belanda tampaknya sangat njawani dibanding yang tinggal di pulau Jawa.

Mereka memiliki bahasa Jawa dialek Suriname. Ini bisa dimaklumi karena nenek moyang Suriname berasal dari Jawa. Hebatnya penutur bahasa Jawa di Suriname ini, menurut wikipedia, mencapai 65.000 jiwa di Suriname dan 30.000 jiwa di Belanda. Sekali lagi ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa tetap memegang erat budayanya di manapun mereka berada.

Tetapi kalau budaya dan bahasa Jawa luntur barangkali iya. Indikasi awalnya bisa dilihat dari munculnya program Java Day. Dari namanya saja sudah mengandung bahasa Inggris. Java adalah sebutan yang disematkan orang-orang Eropa terhadap tanah Jawa.

Mungkin bibir mereka tidak seluwes orang Indonesia yang bisa melafalkan Jawa. Sedangkan Day, semua maklum kalau Day adalah bahasa Inggris yang artinya hari. Sejak tahun 2000, saya kira anak-anak TK saja sudah mengerti apa artinya Java Day. Arti gampangnya adalah sehari berbahasa Jawa atau sehari berbudaya Jawa.

Program ini adalah wujud kemampuan pemimpin Dinas Pendidikan Kota Surabaya meneropong masa depan. Mungkin Kepala Dinas Pendidikan Sahudi khawatir jika budaya Jawa ini ditelan budaya Inggris, Eropa, maupun gaya hidup hedonis yang tumbuh di kota-kota besar. Baru satu tahun dijalankan, niat suci ini ternoda dan terhalang banyak rintangan.

Dikatakan ternoda karena dari namanya saja sudah tidak njawani. Bagi wali murid yang tak mengerti bahasa Inggris, pasti hanya menerka-nerka arti Java Day. Niatnya memang baik agar siswa dan guru lebih berbudaya Jawa. Namun nama program harus di kritisi karena tak membawa pesan yang terkandung di dalam program itu.

Rintangan lain bisa disimak dari pengakuan para guru yang menjalankan program Java Day. Mereka rata-rata mengaku kesulitan menggunakan bahasa Jawa. Kepala SMPN 1 Surabaya Muchtar menuturkan, penerapan hari berbahasa Jawa di sekolah cukup sulit.

Proses belajar mengajar sendiri terhambat ketika guru di kelas menggunakan bahasa Jawa dalam memberikan pelajaran kepada siswa. Pihak sekolah akhirnya memilih kembali menggunakan bahasa Indonesia. Dia tidak mau mengambil risiko kalau siswa tidak bisa menangkap pelajaran ketika penyampaiannya menggunakan bahasa Jawa, seperti dikutip Harian Seputar Indonesia (2/5).

Hal yang sama terjadi di SMA Khadijah Surabaya. Kepala SMA Khadijah Suwito mengatakan, anjuran Dindik Surabaya tentang pelaksanaan Java Day tidak diterapkan sama sekali di SMA Khadijah. Sejak awal pihaknya sudah bersikukuh kalau program Java Day sulit diterapkan di sekolah. Alasannya tidak semua siswa mau menggunakan bahasa Jawa.

Ini berarti lingkungan sangat tidak mendukung bagi terlaksananya program Dindik itu. Orang tua, guru, dan kita semua, sepatutnya introspeksi menyikapi permasalahan ini. Sosok guru bagi orang Jawa identik dengan tokoh yang bisa digugu lan ditiru. Kalau gurunya saja mengeluh apalagi muridnya. Termasuk urusan bahasa Jawa, guru adalah sosok yang bisa ditiru. Keseharian guru ketika berbicara dengan sesama guru akan ditiru muridnya.

Jika guru berbahasa Jawa Krama Inggil, maka muridnya juga berusaha akan menirukannya berbahasa Krama Inggil. Demikian sebaliknya. Jika guru berbicara dengan bahasa Inggris, maka murid-muridnya akan lebih pandai berbahasa Inggris daripada Jawa. Keputusan Kepala Dindik Surabaya Sahudi untuk mempertahankan program Java Day selama tahun ajaran 2009/2010 patut diacungi jempol.

Menurut dia, Java Day tidak sekadar berbahasa Jawa, tapi lebih pada tuntunan etika yang baik bagi pelajar di Surabaya. Melihat kendala di atas, tampaknya harus ada perubahan pola pendekatan dalam menghidupkan kembali budaya dan bahasa Jawa di kalangan siswa.

Ada banyak cara untuk mengingatkan budi pekerti maupun bahasa Jawa. Kalau ada lomba pidato bahasa Inggris, Jepang, Jerman, maupun Prancis, kenapa tidak ada lomba pidato bahasa Jawa tingkat SMP maupun SMA. Program pemahaman juga bisa dilakukan dengan lomba membaca puisi bahasa Jawa.

Undang para penyair Jawa untuk menjadi pembicara di kelas-kelas. Atau sekadar membaca puisi bahasa Jawa dalam setiap momen peringatan. ”Saya mendengar dan saya lupa. Saya melihat dan saya ingat. Saya lakukan dan saya paham.” Begitu filsuf China Confusius menyindir kita semua.

Sep 3, 2010

Remembrance of Allah



Wahai alangkah kecil arti dunia; Wahai alangkah kerdil arti dunia, Wahai alangkah remeh makna dunia; Wahai alangkah wahai tak berartinya dunia; Yang mengejar akhirat mendapat akhirat dan dunia;Yang mengejar dunia cuma mendapat dunia

Sebait puisi Taufiq Ismail itu begitu membahana di dalam kabin. Suara khasnya meninju-ninju kalbu. Sound system Ford Fiesta hatchback 1,4 Style AT yang kami kendarai begitu jernih memutar CD album Remembrance of Allah yang kami bawa jauh-jauh dari Jakarta. Suasana kabin yang begitu senyap seolah menghadirkan Taufiq Ismail duduk di jok belakang.

Suara serak-serak basah itu menjadi teman seperjalanan Seputar Indonesia (SINDO) dalam Ford Fiesta International Media Drive di Phuket, Thailand, Senin (23/8). Kebetulan SINDO mendapat kesempatan menjajal varian Ford Fiesta itu bersama jurnalis senior Yusran Hakim. Transmisi Ford Fiesta ini otomatis 4 tingkat percepatan. Perjalanan selepas waktunya makan siang itu mengambil start di Renaissance Phuket Resort & Spa, Mai Khao, Talang, Phuket, Thailand.

Suara Taufiq mengalun jernih pada etape pertama, Rennaissance-Thung Kha View Point berjarak 70 km. Barangkali itulah kelebihan sound system Ford Fiesta berkekuatan 4 speaker dan disuplai MP3, USB, dan CD Player.

Pada varian tercanggihnya, Ford menanam teknologi mobil mewah yakni voice command atau aktivasi suara. Dengan teknologi yang panelnya pada varian tercanggih menyatu dengan tuas sein, pengemudi dan penumpang bisa berinteraktif dengan kendaraan. Suara penumpang maupun pengemudi bisa mengaktifkan telepon seluler melalui bluetooth. Kemudian dari layar LCD di tengah dashboard suara perempuan berbahasa Inggris menyapa. Anda akan ditanya mau mengaktifkan radio, CD player, air conditioning atau phone. Ketika menyebut phone, fasilitas ini akan menjawab silakan masukkan nomornya.

Jika lafal bahasa Inggrisnya kurang bagus, maka yang muncul angka lain. Untuk menghapusnya cukup menyebutkan "correction" hanya angka yang salah dihapus. Jika nomor telepon sudah lengkap tinggal sebut "dialing". Sayang penggunaan voice command seperti yang dijelaskan Andrew Ball, Chief Program Engineer Ford Asia Pasifik dan Afrika (APA) ini tak terpasang pada kendaraan kami. Meski kecewa, kami bersyukur bisa menjajal kelebihan Ford Fiesta.

Kami terus melaju. Pedal gas mulai diinjak agak dalam pada jalur lurus. Cuaca yang kurang bersahabat rupanya menjadi batu ujian iring-iringan 10 unit Ford Fiesta. Hujan deras memayungi perjalanan pada etape pertama. Alhasil sepanjang jalur terdapat genangan air, basah, kering, hingga jalanan bergelombang.

Jalur basah ini membuat laju kendaraan masih berkisar 80-100 km. Duduk di bangku kemudi terasa nyaman meski di luar hujan turun sangat deras. Pandangan ke depan sangat lega memudahkan mengontrol laju kendaraan. Banyaknya genangan air yang berada di sisi kanan jalan tidak begitu berpengaruh pada kemudi saat diterjang.

Memang kemudi sedikit tertahan ke kanan ketika roda ban melibas genangan air setinggi mata kaki. Namun secara keseluruhan, kemudi Ford Fiesta jenis Rack and Pinion dengan Eletric Power-Assisted System melahapnya tanpa kehilangan kendali. Hujan deras juga memaksa kami menyalakan lampu kabut depan dan belakang.

Tombol lampu kabut ini berada pada dashboard di bawah kemudi bagian kanan. Tinggal diputar ke kanan maka lampu kabut menyala. Pengaturan spion bisa dilakukan dari pengendali di samping pintu. Namun jika tak jeli memencet, bisa-bisa spion akan menekuk ke bawah maupun ke atas, ke dalam atau malah terlalu ke luar.

Tuas untuk mengatur lampu sein juga berbeda dengan mobil-mobil negeri Sakura di Indonesia. Tuas sein ini berada di bawah lingkar kemudi sebelah kiri. Sedangkan tuas pembersih kaca berada di sebelah kanan. Bagi pengemudi yang kurang terbiasa bisa selalu salah memindah tuas. Kalau menggerakkan tuas kiri maka yang menyala adalah lampu sein. Sedangkan yang sebelah kanan adalah penggerak alat pembersih kaca.”Karena berbasis Eropa, Ford menggunakan tuas sein di kiri menyesuaikan lajur jalan,” tutur Yusran.

Suara Taufiq Ismail dari CD Player telah berganti dengan Aris Idol ketika rombongan mendekati Thung Kha View Point. Lagu Tuhan ciptaan Sam Bimbo itu menemani kami menelusuri jalanan berliku. Ford Fiesta melibasnya seperti air mengalir di kelokan sungai. Cuma ketika belok, bodi bagian belakang yang bertumpu pada twist beam sedikit terlempar ke luar. Kondisi ini biasanya dirasakan pengemudi. Sedangkan penumpang di samping pengemudi tidak terlalu merasakannya.
Seolah Hidup Meski Diam
Thung Kha View Point memang layak sebagai tempat istirahat. Tempat ini mirip Puncak di Bogor, Jawa Barat, atau Payung di Kota Batu Jawa Timur. Bedanya bila di Puncak bernuansa kebun teh, di Thung Kha View Point pandangan yang terhampar adalah kebun kelapa sawit. Mobil 10 unit diparkir berjajar. Benar apa yang dikatakan Cristopher Svensson, Director of Design, Ford APA, sebelum berangkat menuju Thung Kha. Ford Fiesta didesain seperti hidup dalam posisi diam. Meski sedang diparkir, tarikan garis yang nyata di sisi samping dan juga bagian depan bodi, menyiratkan Fiesta seperti jalan. Inilah yang terlihat selama kami berhenti sejenak di Thung Kha View Point.

Di sini kami bertukar tempat. SINDO menikmati duduk di bangku penumpang sedangkan Yusran menjadi pengemudi pada etape Thung Kha-Haadson Resort berjarak 65 km. Rasanya nyaman sekali sebagai penumpang. Mata rileks karena tidak berkonsentrasi mengemudi. Kaki juga bisa selonjor dengan lepas. Sesekali SINDO juga mencoba membuka kotak di bawah jok penumpang depan.

Belum beberapa menit duduk santai, Yusran menggunakan mode transmisi D yang di-setting manual. Pada saat gigi rendah, pada layar di bawah kemudi akan menunjuk angka 1 hingga 4. Angka ini menunjukkan gigi rendah maupun gigi putaran tinggi. Alhasil tarikannya lebih responsif. Tercatat tiga kali, kami berhasil menikung tajam dengan kecepatan sekitar 100 km/jam. Hati sedikit berdebar kencang, namun suara Tombo Ati yang dinyanyikan Ihsan Idol, benar-benar menenteramkan hati sepanjang perjalanan menuju Haadson Resort.

Ford Fiesta Sedan 1,6 Sport Powershift
Setiba di Haadson Resort sekitar pukul 15.00 waktu setempat, rombongan beristirahat menikmati kopi selama 30 menit. Rombongan kemudian dipecah lagi hingga akhirnya SINDO mendapat kesempatan duduk sebagai penumpang Fiesta Sedan 1,6 Sport Powershift, varian tertinggi di kelasnya. Model ini akan dipasarkan PT Ford Motor Indonesia (FMI) mulai April 2011.

Duduk di belakang kemudi seorang jurnalis wanita Emma Aliudin dari majalah gaya hidup ibu kota. Sambil mengemudi Emma mengaku lebih sreg pada Ford Fiesta hatchback "Tapi saya harus mencoba Mazda2 Sedan atau Toyota Yaris untuk bisa membandingkan dengan Fiesta Sedan ini. Selama ini saya biasanya memegang Toyota Vios," ujar Emma. Menurut dia, daya cengkeram Ford Fiesta Sedan lebih enak dibandingkan mobil dinas (mobdin) miliknya.”Rasanya lebih ringan dan daya cengkeramnya terasa,” tutur Emma. Keasyikan berbincang membuat mobil kami terpisah dari rombongan utama yang menuju Lampee Waterfall. Sempat khawatir tersesat karena berada di negeri orang, kami tertolong panduan jalur dari satelit yang terpasang di atas dashboard. Tidak berbeda jauh dengan Fiesta hatchback, tarikan sedan ini sangat terasa.
Desain interior hatchback dan sedan juga tidak berbeda. Ruang di antara jok pengemudi dan penumpang dirancang modern yang bisa meletakkan beberapa botol minuman, uang logam dan seluler. Jika model hatchback memiliki panjang 3,950 mm, maka yang model sedan memiliki panjang 4,291 mm. Kepanikan karena tertinggal dari rombongan sedikit terobati.
Emma mampu menggeber mobil hingga kecepatan 120 km/jam. Untung juga jalanan di Phuket lebar dan mulus, dan sepeda motor hanya diberi ruang sekitar 1 meter di pinggir jalan. Jadi perjalanan menyusul rombongan akhirnya sukses hanya beberapa ratus meter dari Lampee Waterfall. Pada etape penutup, Lampee Waterfall, SINDO duet kembali dengan Yusran Hakim. Kali ini mobil Ford Fiesta hatchback mampu digeber pada kecepatan 165 km/jam. Kecepatan ini diyakini masih bisa bertambah. Pedal gas masih bisa ditancap lebih dalam. Cuaca mendung menjadi teman perjalanan etape Lampee Waterfall- Renaissance Phuket Resort & Spa, berjarak 46 km. Suara syahdu Rindu Rasul (Taufiq Ismail/Sam Bimbo) menjadi penutup perjalanan setengah hari yang cukup melelahkan itu.(edi purwanto)

Aug 31, 2010

Mohon Maaf Pak Beye

17 Agustus 2010 baru saja berlalu tiga hari lalu. Selama tiga hari itu, aku selalu resah memandang Indonesia ini ke depan. Aku resah tentang masa depan anak-anak. Aku resah mau dibawa ke mana negeri ini. Aku resah karena kami tidak diajak memandang dalam spektrum lebih luas.

Ke mana negeri ini dibawa pun aku bingung. Doktrin yang selalu ditanamkan kepada kami, mari kita bangun negeri ini agar menjadi negeri yang makmur. Makmur seperti apa? Pergi ke mana-mana aman, pendidikan murah, bensin murah, sandang pangan papan murah, rakyat kecil iso gumuyu, bahkan bisa beli mobil layaknya pejabat.

Fakta melukiskan sebaliknya. Mantan menteri keuangan Sri Mulyani saja sampai mengeluh biaya pendidikan apalagi kaum miskin. Harga sembako juga menjadi permainan tengkulak. Perampok merajalela, korupsi ikut menggerogoti kekayaan negara. Pemerintah seolah-olah hanya mengikuti alur birokrasi yang alurnya mbulet tidak karuhan.

Pertanyaannya sampai kapan Indonesia makmur? Negeri ini sudah berumur 65 tahun sejak eyang Bung Karno membacakan proklamasi. Setiap periode kepemimpinan meninggalkan bekas yang dalam bagi penerus negeri ini. Sebagai orang muda yang dibesarkan pada orde baru tentu sangat paham dengan rencana pembangunan lima tahun (repelita).

Program jangka panjang menjadi target bersama rakyat Indonesia. Seperti swasembada beras. Begitu pemerintah mencanangkan swasembada pangan ini, seluruh kekuatan rakyat dikerahkan untuk swasembada pangan. Ujung-ujungnya target pangan ini tercapai. Pak Harto pada tahun sebelum krisis 1997 sampai berani menyebut Indonesia akan jadi macan asia.

Terus terang, harapan kami yang pada saat itu masih duduk di bangku SMA melambung, "Sebentar lagi Indonesia akan sejajar dengan Jepang, China." Begitu hati kami bergumam. Tapi apa daya krisis mengguncang Indonesia. Semua berantakan. Fondasi ekonomi kalang kabut. Pada akhirnya Indonesia harus tumbang. Pak Harto lengser bersama senyumnya yang khas.

Mewujudkan demokrasi ternyata lebih mudah dibandingkan mewujudkan kesejahteraan. Partai menjamur pascareformasi. Pemilihan presiden secara langsung sesuai azas demokrasi sukses mengantarkan SBY-JK. Namun laju demokrasi ini tidak diimbangi SBY-JK sampai SBY-Boediono meningkatkan kesejahteraan. Barangkali terlalu subjektif, tapi inilah yang aku rasakan. Orang-orang partai langsung kaya mendadak. Aktivis mahasiswa yang tiba-tiba terjun ke politik mendadak berubah menjadi orang kaya baru.

Program-program menonjol yang melibatkan rakyat dalam skala nasional hanya program BLT, penggantian minyak tanah dengan elpiji. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terpuruk. Yang anak pejabat akan jadi pejabat, dan yang anak kaum sudra akan tetap menjadi keset. Akses pendidikan justru tertutup dengan banyaknya sekolah internasional. Pendidikan murah hanya berhias program beasiswa. Anak-anak kaum miskin semakin terpuruk. Biar tak berdaya kami tetap optimistis.

Kami sebenarnya masih punya mimpi tentang Indonesia. Sebuah mimpi tentang bangsa yang memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang besar. Sebuah mimpi tentang pemimpin setegas Gajah Mada. Pemimpin yang mampu mengarahkan ke mana negeri ini dibawa ke mana. Bukan pemimpin yang letoy, lebay, dan gila popularitas. Ajaklah kami bekerja keras. Beri kami contoh dengan turun ke lapangan bukan hanya duduk di kursi. Tunjukkan kepada kami jalan menuju kemakmuran. Tunjukkan kepada kami bahwa Bangsa Indonesia mampu makmur sejajar dengan bangsa lain. Kami sudah capek dengan retorika. Pak Beye jangan marah ya, sampean kan kepala pelayan kami. (Selamat HUT ke-65 Kemerdekaan Indonesia)

Jul 26, 2010

Cara Maut Memilih Ketua Geng

Lapen, memang memabukkan. Saking kerasnya, kandungan alkoholnya bisa mengantarkan hingga ke akhirat. Percaya atau tidak? Dalam sepekan terakhir, setidaknya 14 pemuda mati sia-sia menenggak lapen. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BB POM) Yogyakarta menduga korban tewas karena unsur methanol di dalam alkohol lapem.

Dugaan sementara ini merujuk sejumlah literatur di mana Lapen dibuat dengan cara mencampur alkohol berkadar di atas 70% dengan air, bahan perasa, dan pewarna makanan.Data terakhir Poltabes Yogyakarta, jumlah korban tewas akibat menenggak Lapen di Kota Yogyakarta sudah mencapai 14 orang.

Sejatinya, pesta miras hingga tewas tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Pada awal 2007, Kota Kediri dan Tulungagung digegerkan matinya belasan pemuda. Usut punya usut, mereka ternyata mati overdosis. Saking banyaknya korban, Pemkot Kediri sampai menyatakan kejadian luar biasa (KLB). Bedanya, kalau di Yogyakarta menenggak Lapen, maka di Kediri dan Tulungagung, menenggak minuman keras oplosan.

Data Dinas Kesehatan Kota Kediri menyebutkan, korban tewas overdosis mencapai 34 orang, 11 di antaranya tewas selama Maret 2007. Hasil tes urine yang dilakukan petugas medis, sebagian urine diketahui mengandung benzodiazepines. Zat beracun itu menyebabkan kerusakan otak.
Data di RSU dr Iskak Tulunggung dalam kurun waktu yang relatif bebarengan dengan di Kediri, delapan pemuda tewas sia-sia karena minuman keras dan psikotropika. Mereka di antaranya, Mohammad Muchtar,19; Ahmad Rofiq, 18; Ibnu Nita Chandra, 18, (ketiganya warga Desa Bendiljatiwetan, Kecamatan Sumbergempol), Khoirul Muklis,22, warga Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol; Taufik Armiko,20, warga Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru; Fendik,21, warga Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung; Dwi Prasetya,22, warga Desa Pacitan, Kecamatan Ngunut; dan Nanang, 20, warga Desa Pojok, Kecamatan Ngantru.

Sedemikian parahkah pemuda kita? Kebiasaan mengonsumsi obat-obat psikotropika jenis lexotan, nampaknya memang menjadi gaya hidup bagi sebagian remaja Kediri dan sekitarnya. Bahkan untuk menyandang gelar sebagai ketua geng, mereka mengadakan uji nyali dengan mengonsumsi pil koplo.

Joni (nama samaran), 28, warga, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, menjelaskan, kebiasaan mengonsumsi lexotan, ibaratnya sudah seperti memakan nasi bagi pemuda di kampungnya."Jika tidak ketemu lele (sebutan untuk obat double L), rasanya seperti belum makan nasi satu hari," ujarnya sambil cengar-cengir.
Bapak satu anak mantan ketua geng di kampungnya itu mengungkapkan, tidak terlalu sulit mendapatkan pil koplo di wilayah eks Karesidenan Kediri. Cukup dengan berbekal rekomendasi sesama pengguna pil koplo, calon pemakai akan diperkenalkan kepada seorang pengedar yang selalu siap memenuhi berapa pun obat yang dibutuhkan. ”Harganya murah, berkisar antara Rp2.500 - Rp5.000 per butir,” tukasnya.
Harga yang sangat murah itu, tidak terlalu berat bagi pemuda yang bekerja sebagai buruh serabutan dan pengamen jalanan. Apalagi peredaran pil koplo sudah dari kampung ke kampung. Sehingga, ibarat baru saja keluar rumah, pil koplo sudah di depan mata. Dari penelusuran kasus per kasus, sebagian besar para korban tewas overdosis adalah pengamen dan buruh pada home industri yang tersebar di Kediri dan Tulungagung.
Penghasilan mereka berkisar Rp15.000 – Rp25.000 per hari. Maka harga pil yang berkisar Rp2.500-Rp5.000, merupakan harga yang sangat murah untuk sekadar menikmati fly. Terkadang, untuk menunjukkan eksistensinya, satu kelompok pemuda tak keberatan untuk patungan membeli pil haram tersebut."Kalau pil sudah terkumpul, kami pesta kecil-kecilan di rumah salah satu teman," jelas Joni, yang sudah 2 tahun tidak menikmati lexotan .
Pesta narkoba rata-rata digelar untuk memperkuat persahabatan antar anggota kelompok. Dalam pada itu, tercipta sikap keterbukaan antar sesama anggota geng. Ini yang kemudian mendorong pesta adu nyali.
Ritual adu nyali dilakukan untuk mencari siapa yang terkuat. Siapa pun yang sanggup menelan puluhan butir lexotan, dia yang akan dinobatkan sebagai ketua geng atau minimal dianggap jagoan. "Siapa yang terakhir berdiri dan tidak kolaps, dia yang akan dinyatakan sebagai ketua geng. Ini sudah menyangkut harga diri bagi kami sebagai laki-laki," ujarnya berapi-api.
Ritual ”gila” itu belum cukup. Bahkan, para pemuda itu melakukan eksperimen dengan meracik pil koplo dengan minuman beralkohol. Parahnya lagi, untuk menimbulkan sensasi yang luar biasa, minuman keras dan pil lexotan dioplos dengan obat nyamuk merek autan dan baygon.
Tak tanggung-tanggung, ada yang dicampur dengan bahan bakar bensin dan spiritus.

"Hanya saja, kadar bahan bakar tidak perlu banyak sehingga tidak terlalu kolaps," kata Joni ringan. Joni mengaku, koma selama 1 bulan di rumah sakit setelah minum minuman oplosan itu. Saat ini Joni sudah menyatakan berhenti mengonsumsi narkoba setelah menjalani masa penyembuhan selama dua tahun. ”Saya sudah tobat, dan tidak ingin mengulangi masa lalu lagi,” pungkasnya.

Korban tewas sudah berjatuhan. Masihkah pemuda kita menutup mata? Nyatanya, pesta miras masih ada di mana-mana. Mulai dari diskotek hingga gardu pos keamanan di pojok kampung. Kini pesta miras tak sekadar minum, tapi sudah menyangkut nyali hingga nyawa. Anda berani?

Suramadu, Kebanggaan Semu?

.Ini bukan prediksi final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, antara Belanda versus Spanyol yang digelar Senin dini hari (12/7). Tapi ini masalah kebanggaan sebagai sebuah bangsa. Pertemuan dua finalis bangsa penjajah nusantara pada Piala Dunia 2010 ini memberi pelajaran yang sangat berarti. Konflik antarsuku, agama, perbedaan politik hingga dendam antarpribadi, akan menguntungkan bangsa lain.

Kekacauan akibat adu domba pernah dimanfaatkan para penjajah untuk menyelinap ke Indonesia. Bangsa Eropa pertama, menurut buku-buku sejarah yang menjejakkan kakinya di wilayah Indonesia adalah bangsa Spanyol dan Portugis.

Politik adu domba membuat dua wilayah di bawah Kesultanan Ternate dan Tidore, dengan mudah dikuasai bangsa Eropa. Demikian pula masuknya Belanda yang diwakili Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602.
Gampangnya kompeni masuk juga dipengaruhi perpecahan raja-raja Jawa dari Kerajaan Mataram hingga Kesultanan Demak. Kalau diteruskan, catatan ini akan menjadi tulisan ngelantur tentang sejarah. Pada intinya, bangsa ini sangat mudah diadu sesama bangsanya bukan karena kemiskinan, tetapi barangkali karena negeri ini terlalu kaya. Jumlah suku dan bahasa daerahnya mencapai ratusan, potensi tambang mulai batu bara hingga intan permata berjuta ton, dan alamnya gemah ripah loh jinawi.

Meski kaya, negeri ini masih ketinggalan di banding negara di semenanjung Korea. Ketika Korea Selatan (Korsel) yang hari kemerdekaannya selisih dua hari dengan Indonesia, sudah melaju ke babak gugur Piala Dunia 2010, negeri ini masih gontok-gontokan. Entah di bidang perekonomian maupun olahraga, Indonesia masih kalah dibanding Korsel.

Dari segi perekonomian, Korsel sudah melaju cepat meninggalkan Indonesia. Menurut saudara-saudara tenaga kerja Indonesia yang ada di Korsel, mencari pekerjaan di Korsel ibarat membalikkan telapak tangan. Gampangnya mencari pekerjaan ini menjadi satu indikator kalau pertumbuhan ekonomi Korsel cukup baik. ”Paling banter menganggurnya dua hari. Setelah itu dapat kerja lagi,” kata seorang TKI yang sudah 5 tahun berada di negeri ginseng itu.

Pertumbuhan Korsel juga tidak lepas dari gaya hidup warga Korsel yang sangat cinta produk dalam negeri. Mereka bangga dengan bangsanya. Karena alasan itu, mereka juga enggan menggunakan barang-barang produk Jepang, yang dulu sempat menjajahnya. Mereka ingin menepuk dada bisa melebihi kemampuan penjajah dalam segala hal, mulai teknologi, olahraga, hingga perekonomian.

Kemampuan itu juga ditunjukkan daya saing mobil merek Korsel seperti Hyundai, Daewoo terhadap kuda besi asal Jepang. Sedangkan Indonesia belum pernah sukses menggarap mobil nasional. Kondisi serupa juga terjadi di peralatan elektronika. Warga Korsel selalu bangga dengan produk negerinya. Mereka bangga dengan merek Samsung, mulai tv hingga telepon seluler (ponsel).

Bandingkan dengan masyarakat Indonesia yang selalu bangga dengan produk luar negeri. Mereka bahkan dengan bangganya menggunakan produk bangsa yang dulu pernah menjajah Indonesia. Ribuan sepeda motor merek Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki berkeliaran di jalan-jalan. Bila masuk ke dalam rumah, jarang kita menemukan tv merek Polytron. Padahal tv ini merupakan produk asli Indonesia. Sampai masalah Piala Dunia 2010, masyarakat Indonesia sebagian terbelah antara menjagokan Belanda atau Spanyol.

Untuk urusan sepak bola, Indonesia juga tidak ada apa-apanya dengan Korsel. Park ji Sung dkk sukses menembus Piala Dunia 2010 dengan penampilan menawan meski berhadapan raksasa Argentina. Sedangkan prestasi Bambang Pamungkas dkk hanya level Asia Tenggara. Kebanggaan sebagai bangsa juga dirasakan rakyat Spanyol pasca kemenangan 1-0 atas timnas sepak bola Jerman. Sukses tersebut menggumpalkan semangat dan motivasi rakyat Spanyol keluar dari krisis global

“Semangat rakyat Spanyol tumbuh kembali. Kami semua sangat bangga dengan hasil yang dicapai timnas. Ini adalah pelepas derita krisis ekonomi mengerikan yang diciptakan pemerintah. Hasil ini mengangkat semangat kami untuk melewati krisis ini,” ujar Loria Alejandrez, seorang wanita pegawai negeri sipil di Madrid, seperti dikutip Reuters, Seputar Indonesia, Jumat (9/7).

Itulah kebanggaan. Produk dalam negeri yang berkualitas, kemenangan tim sepak bola, atau prestasi anak bangsa lainnya, ternyata bisa mengungkit rasa bangga sebagai bangsa. Termasuk ketika Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) diresmikan setahun lalu. Tidak hanya rakyat Jawa Timur saja yang bangga. Tapi bangsa ini juga bangga karena memiliki jembatan terpanjang di Indonesia. Namun kiprah jembatan Suramadu masih jauh dari konsepnya sebagai kawasan ekonomi. Jembatan Suramadu sebenarnya digadang-gadang mampu mendorong investasi di kawasan Madura dan sekitarnya.

Namun setelah setahun berlalu, Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) belum bisa menjadi seorang Carlos Puyol. Gebrakan BPWS belum mirip tandukan bek tengah Barcelona itu ke gawang Jerman, yang mampu mengungkit semangat rakyat Spanyol keluar dari keterpurukan ekonomi. Lembaga bentukan pemerintah ini masih berkutat di lini belakang dengan tata ruang dan wilayah (RTRW) Suramadu, hingga terbelit masalah kekurangan dana. Tak pelak para investor yang sudah antre enggan melesakkan gol di Suramadu. Semoga Jembatan Suramadu bukan kebanggaan semu belaka. Make us proud, Indonesia!.(*)

Oct 28, 2008

Merokok, ”Bunuh Diri” yang Dilanggengkan

Siapa yang tak kenal dengan tiga nama ini. Putera Sampoerna (HM Sampoerna), Rachman Halim (Gudang Garam), dan Budi Hartono (Djarum). Orang se Indonesia paling tidak sudah mendengar nama tiga orang itu. Kalau pun toh tidak mendengar tiga nama itu, setidaknya orang yang berada di gunung-gunung hingga tepi pantai, pasti mengenal hasil produksi ketiga orang itu. Ini sebuah fakta. Bahwa rokok telah menjadi budaya yang sudah mengakar di dalam masyarakat kita. 
Dari nelayan hingga pemetik kopi di gunung-gunung, semuanya memegang rokok sambil bekerja. Setiap petani atau nelayan kita dengan susah payah menyumbang uang kepada tiga orang yang dinobatkan Majalah Forbes masuk 40 orang terkaya di Indonesia. Hasil sumbangan, petani, nelayan, sopir, kuli bangunan, kuli disket, anggota Dewan, mahasiswa hingga pengamen jalanan, telah mengantarkan tiga orang  itu, sukses memiliki kekayaan bersih sedikitnya 22,275 Miliar US Dolar atau Rp200 triliun. Mereka memiliki sejuta karyawan, ratusan mobil, hingga ratusan gudang, untuk menjaring sesamanya masuk ke dalam jurang tak berkedalaman. Namun anehnya, para perokok terbius dalam kenikmatan asap semu. Kemudian dia mewariskan kepada anak-anak, dan cucu-cucunya. 
Siapa pun sadar, Tar yang terkandung di dalam rokok, dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kanker. Siapa pun sadar Karbon Monoksida yang terkandung di dalam rokok, adalah gas beracun yang mengakibatkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen. Siapa pun perokok sadar telah menghisap nikotin yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah. 
Tetapi kenapa masih ada yang merokok? Karena rokok adalah ”Tuhan Lima Senti” begitu penyair Taufiq Ismail menyindir betapa Indonesia adalah Surganya Kaum Perokok dan Nerakanya kaum yang tak pernah merokok. Sebutan ”Tuhan”, mungkin juga untuk menyindir kiai-kiai dan pemuka agama, yang masih tergiur dengan nikmatnya silinder tembakau terkandung dalam kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 milimeter itu.
Rokok boleh dikata berkah bagi pengusaha, dan bencana yang dinikmati bagi penghisapnya. Di antara dua sisi ini, pemerintah harus bertindak tegas mengatur hubungan tak seimbang itu. Sebab rokok sudah menjadi budaya yang sangat sulit memutus mata rantainya kecuali hanya dengan mengatur, tempat, kapan boleh, dan bagaimana cara merokoknya.  
Pada 22 Oktober 2008 lalu, Pemerintah Kota Surabaya dan DPRD sudah mengesahkan Peraturan Daerah Kawasan Tertib/Terbatas Rokok. Sebuah kemajuan meski boleh dibilang terlambat karena rokok sudah menjadi denyut nadi Kota Metropolis itu. Perda yang berlaku efektif 2009 itu, melarang orang merokok di sarana kesehatan seperti puskesmas, tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, angkutan umum, dan tempat ibadah.  Sementara kawasan terbatas rokok berada di tempat umum seperti mal, bioskop, dan tempat kerja. Jika ada yang merokok dan ketahuan Satpol PP bisa kena denda Rp50 juta. 
Belajar dari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara DKI Jakarta, sejatinya kelemahan dari setiap peraturan adalah ketegasan penegak peraturan itu. Kita tilik saja DKI Jakarta. Meski Perda sudah ditetapkan masih banyak mal dan gedung-gedung perkantoran yang tidak menyediakan tempat khusus merokok. Kemudian di setiap tempat umum masih jamak ditemui orang merokok sembarangan. Di sinilah ketegasan itu mutlak diperlukan. 
Coba simak sebait puisi penggalan ”Tuhan Lima Senti” ini. Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Mari kita tegakkan aturan itu, atau ada ayahanda, ibunda, ananda, dan cucu-cucu kita mati karena tembakau. Stop merokok atau rokok membunuh Anda.
 

Sep 10, 2008

‘Malang Nian Jadi Polisi…’

“Malang nian jadi polisi. Berbuat benar pun tetap disalahkan.” Kalimat bernada keluhan itu keluar dari bibir Wakil Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya, Kompol Bahagia Dachi, Jumat (20/8). Sejak kemarin sore, namanya disebut-sebut sebagai aktor di balik kasus penganiayaan terhadap Muhammad Syaifudin Umar alias Abu Fida (38) yang diduga menyembunyikan buronan kasus pengeboman Hotel JW Marriott, Jakarta.
”Saya jelas tersinggung disudutkan seperti itu. Apalagi yang melepas Abu Fida di Kediri bukan saya. Kalau kemudian begini, malang nian jadi polisi. Berbuat benar pun tetap disalahkan,” ungkapnya dengan nada penuh kekesalan.

Lelaki yang dikenal kalem namun tegas ini kemudian mengungkapkan proses penangkapan Abu Fida. Setelah mendapat surat perintah penangkapan (SP Kap), dia bersama tiga anggotanya mencari rumah tersangka Abu Fida.

Meski lokasinya tergolong mudah dicari, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Abu Fida mempunyai 2 rumah di Surabaya dan 1 rumah di Jombang. Komando berada di tangan Kompol Bahagia Dachi, ketika pencarian sudah menunjukkan hari ke-30 sejak SP Kap dikeluarkan 1 Juli 2004. Sebulan tidak membuahkan hasil tentu mengkhawatirkan.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 4 Agustus, sebuah informasi mengatakan tersangka Abu Fida berada di Surabaya. Tim berkekuatan 3 bintara dan 1 perwira meluncur ke Asrama Haji Sukolilo.

Mereka menyanggong Abu Fida karena menurut informasi, dia akan melalui jalan di samping asrama haji. Keberuntungan berpihak pada petugas. Sesaat kemudian target operasi muncul dari ujung jalan. Baku hantam sempat terjadi. Pasalnya, Abu Fida melawan saat ditangkap. Akhirnya ayah empat anak itu diringkus setelah pergumulan tak seimbang, 3 lawan 1.

”Dia sempat melawan ketika ditangkap. Beruntung kami berhasil melumpuhkannya,” kata Kompol Bahagia Dachi.

Tugas pun selesai. Setelah itu Abu Fida diserahkan pada satu tim yang menangani dan menyidik tersangka kasus-kasus terorisme. ”Tugas penangkapan adalah tugas tim. Ada yang bertugas menangkap, kemudian ada yang menginterogasi. Kebetulan saya dan tiga anggota mendapat tugas menangkap tersangka Abu Fida,” urai Bahagia Dachi.

Menurutnya, setelah itu dia kembali pada kesehariannya sebagai Wakil Kasat Reskrim Polwiltabes Surabaya. ”Saya juga terkejut begitu mengetahui Abu Fida ditemukan tergeletak di depan RSU dr Soetomo dalam kondisi luka. Saya menjadi heran ,kok, kemudian saya disebut yang menganiayanya,” ungkapnya. (*)

Hamil 2 Bulan Mencoba SS, Anak Akhirnya Ketagihan

Ibu dari segala obat adalah sedikit makan. Ibu dari segala adab adalah sedikit bicara. Ibu dari segala ibadat adalah takut buat dosa. Ibu dari segala cita-cita adalah sabar

Empat hal yang ditulis para pujangga itu, khusus ditorehkan untuk mengenang dan menggambarkan semua perbuatan mempunyai induk atau ibu. Namun ibu yang satu ini patut dirujuk sebagai pelajaran mengarungi riaknya hidup dan kehidupan yang sudah semakin jauh masuk ke alam pemikiran kapitalis.

Kemelaratanlah yang mengukuhkan Ny. Sukartini (43), warga Bronggalan Sawah dengan status barunya, ”Ibu sekaligus nenek tiga cucu pengedar sabu sabu (ss)”.

Sebutan itu semakin lekat dengan status Dimas Haryono (20), anaknya yang menjadi pemakai ss. Ibu dan anak itu, kini harus merenungi nasibnya di ruang tahanan Polresta Surabaya Selatan bersama Sutanto (28) warga Pacarkeling yang juga ditangkap Satuan Narkoba.

Ketiganya ditangkap petugas Minggu (17/7) sore, dalam operasi yang dipimpin Iptu Khonis Umbariyanto. ”Ketika kami menggeledah rumah mereka, didapat 3 poket ss serta beberapa peralatan menghisap seperti bong,” kata mantan Waka Polsekta Gayungan itu.

Ibu Sukartini hanya tersenyum getir ketika mengulang kisah hidupnya menjadi pengedar ss. Layaknya sebuah piringan hitam, pikiran istri Suparno (48) itu, flash back jejak langkahnya 5 bulan silam. Pada saat itu, ibu empat anak itu mengandung janin berumur 2 bulan yang kelak menjadi putranya yang ke lima. Di awal kehamilan bagi banyak orang, kesehatan kandungan maupun ibu yang mengandung sangat diperhatikan. Berbeda dengan Sukartini.

Seakan takdir sudah digaris di telapak tangan, ia justru terjerumus ke dunia narkoba. Awalnya ia berkenalan dengan seorang pria warga Jl. Gresikan. Persuaan singkat itu menjadi titik balik Sukartini sebagai ibu yang seharusnya menjadi panutan yang baik bagi putra-putrinya. Pria itu menawarinya menjadi pengedar ss. Caranya cukup mudah bagi seorang ibu rumah tangga. Ia dititipi setiap minggunya 5 sampai 10 poket serbuk setan itu. Setiap poketnya dijual Rp 100 ribu - Rp 120 ribu.

Tak urung tawaran yang menggiurkan dengan hasil keuntungan ditanggapi dengan tangan terbuka. Apalagi penghasilan Suparno sebagai sopir ekspedisi tergolong pas-pasan, semakin lekat dalam ingatannya.”Saya kepepet ekonomi. Dengan terpaksa tawaran itu saya terima,” aku Sukartini.

Anggukan kepala menjadi pertanda Sukartini menjadi seorang ”Ibu” yang lain bagi anak-anaknya. Tanpa sadar dia menjadi contoh bagi Elis (22) (putri pertamanya yang sudah menikah), Dimas (yang masih duduk di bangku SMA), Yuda (15), dan Doni (10). Ibarat bermain air, Sukartini ikut basah. Dari empat anaknya, hanya Dimas yang terpengaruh serbuk haram itu. Dalam hitungan hari, bisnis sampingan yang ditekuni wanita asli Surabaya tersebut semakin bergairah.

Dalam seminggu setidaknya dia mampu mengedarkan 5 sampai 10 poket. Dari mengedarkan ss itu, dia mengaku mendapatkan dua keuntungan. Selain uang Rp 50 ribu per minggu dari pria yang dikenalnya itu, ia bisa menggunakan ss dengan gratis. Caranya dia mencukit sedikit ss untuk konsumsi pribadi. ”Sejak hamil dua bulan saya sudah mencoba memakai ss,” kata ibu yang juga berstatus nenek tiga cucu itu.

Rasanya? Sukartini mengaku kandungannya biasa saja tidak ada pengaruhnya. Yang terang tubuhnya merasa lebih enteng ketika menghisap asap yang keluar dari serbuk mirip tawas itu. Bahkan, ia mengaku lebih bergairah menjalani kehidupan yang serba susah. Tidak takut anaknya nanti ketagihan, ia hanya menggeleng sembari mengatakan tidak tahu.

”Meski cucu saya sudah tiga orang dari Elis 2 cucu dan Dimas 1 bocah mungil, kebiasaan mengonsumsi ss semakin sulit dibendung. Hingga kandungan berumur 7 bulan, saya tetap mengonsumsi ss dengan cara mencukit,” katanya polos.

Seiring kebiasaan buruk itu, Dimas diam-diam memperhatikan tingkah ibu kandungnya. Dia yang nyambi membuka bengkel sambil sekolah di SMA swasta kawasan Surabaya Selatan, mulai tertarik. Secara sembunyi-sembunyi dia mulai menikmati kehidupan pemakai ss. Bahkan tak jarang, dia pesta ss bersama teman-temannya, termasuk Sutanto yang juga ditangkap satuan Narkoba. ”Saya sebenarnya tahu dia menggunakan ss. Tetapi saya tidak mencegahnya,” tutur Sukartini di ruang penyidikan.

Tuhan nampaknya memainkan tangan-tangannya melalui reserse narkoba Polresta Surabaya Selatan. Kebiasan keluarga itu, hanya dapat dihentikan jika mereka merenungi arti ”Ibu dan Anak” di dalam ruang tahanan. Minggu (17/7) siang, Sutanto dan Dimas sedang asyik menyedot asap putih berasal dari serbuk ss yang dibakar di dalam bong. Tiba-tiba pintu rumah digedor seorang pria. Mereka mengaku teman Sukartini dengan tujuan membeli barang. Ketika pintu dibuka, empat orang menyeruak sambil mengatakan, ”Kami petugas”.

Tak ayal, keluarga itu kelabakan. Saat digeledah dari sebuah tempat ditemukan 3 poket ss. Sementara dari tempat Dimas pesta, petugas menyita bong dan korek api. Sejak saat itu, tiga orang digelandang ke Mapolresta Surabaya Selatan. ”Tampaknya saya harus merenungi hidup saya bersama Dimas di ruang tahanan. Dan itu harus kami jalani,” kata wanita berambut sebahu itu. (*)

Derita ”Bunga Trotoar Pangsud”

Air mengalir penuh kelenturan. Terkadang riaknya tersibak bebatuan. Begitu pun kehidupan ini jika diperumpamakan air sungai yang mengalir. Terkadang harus melewati kerasnya batu karang bernama cobaan. Pengalaman hidup yang dialami Andini (23) warga Jl. Wonorejo, adalah satu hikmah dari kerasnya batu cadas dalam mengarungi hidup di kota metropolis ini.

Jarum jam sudah menunjukkan angka 24.00. Semenit lagi, Kamis, 2 Februari 2005 sudah diambang pintu. Tetapi belum ada satu pun pengendara mobil dari sekian ratus mobil yang lalu lalang di Jl. Panglima Sudirman menepi. Mata Andini menatap lekat tajam ke arah belokan Jl. Gubernur Suryo dan Jl. Pemuda. Siapa tahu ada om-om China, atau lelaki hidung belang yang butuh kehangatan.

Ia mulai gelisah. Sesekali sapu tangan cokelat yang dipegangnya menyapu kening yang tersaput bedak tebal. Sekilas dandanan wanita berambut sebahu itu mirip model Donna Harun. Sayang kulitnya agak hitam khas gadis Madura kebanyakan. ”Malam itu seperti biasa saya menunggu tamu di bilangan Jl. Panglima Sudirman,” katanya mengawali tragedi yang dialaminya pada 2 Februari 2005 lalu.

Sudah dua tamu yang ditemaninya malam itu. Namun uang di kantong serasa tak cukup untuk menutupi kebutuhan hedonis di kota metropolis. Kehidupan malam yang telah dijalani selama 2 tahun membuat hidup Andini berubah. Dulu bila di Pasuruan hidupnya serba kekurangan, saat ini dia merasakan manisnya uang. Lihat saja gelang dua biji melingkar manis di pergelangan. Belum lagi cincin, kalung serta giwang yang menambah penampilannya tak seperti PSK pada umumnya.

Di ujung jalan, mobil Isuzu Panther merah tampak digoda beberapa PSK yang mangkal di dekat Bank Danamon. Tetapi tampaknya pengemudinya agak ragu. Perlahan mobil itu mendekat di depan kantor Surabaya Post lama Jl. Panglima Sudirman. Di situ Andini tegak berdiri sambil mengayunkan tangan. Tidak tahunya mobil itu berhenti. ”Hai.. sayang, mau nggak nemenin kita ke Hotel Somerset,” kata seorang penumpang yang duduk di depan sebelah kiri.

Andini tak langsung mengiyakan. Dia kemudian melongok ke dalam. Ia lihat sopirnya mirip orang keturunan.”Cuma orang dua om,” tanyanya. Pria yang ditanya tadi mengangguk. ”Asal harganya cocok nggak papa,” tambah Andini. Hanya dalam hitungan menit, Andini pun sudah duduk di depan bagian kiri. Sementara pria yang tadi duduk di depan pindah di belakang. Dalam perjalanan itu, Andini lebih banyak diam. Namun ketika sudah melintas di depan Hotel Somerset perasaannya berubah. ”Lha mas, katanya menginap di Somerset. Tetapi kok terus lurus,” tanyanya. Pria yang memegang kemudi hanya tersenyum. Menurut dia sebentar lagi dia akan berbalik ke Hotel Somerset. ”Saya langsung telepon joki saya. Maksud saya tanya apa nomor platnya sudah dicatat,” tutur Andini. Begitu diberitahu kalau nopol mobil itu L 2744 HV, perasaan Andini sedikit lega. Belum habis nafas panjangnya, tiba-tiba tubuhnya ditarik ke belakang. Panel untuk merubah posisi jok ditarik hingga dalam posisi tertidur. Tubuh seksinya dipeluk dari belakang. Mendadak dari arah belakang muncul dua pria. Total empat orang yang mengerjainya.



Sikat Perhiasan

Belum sempat berteriak, mulut Andini diplester menggunakan lakban. Mobil yang terus melaju seperti tak mengiraukan teriakan maupun tendangan Andini ke langit-langit mobil. Saat itu mobil terus melaju ke pintu tol satelit. Agar petugas tol tak curga, wajahnya ditutupi dengan jaket hitam. Sekitar 5 menit setelah masuk tol, pria yang tadinya duduk di belakang mempreteli semua perhiasan Andini. Dia juga mengambil cincin, gelang, kalung dan anting-anting. Total kerugian yang diderita lebih dari Rp 5 juta.

Dia tak tahu kemana arah mobil berjalan, mendadak pintu mobil bagian tengah sebelah kiri dibuka dan dia dilempar keluar. Ternyata dia dibuang di depan PT Milenia, Desa Sambisewu, Kec. Wonorejo, Kab. Pasuruan. ”Sadar-sadar saya dibangunkan seorang satpam. Saya kemudian ditolong dan diantar ke Polsek Wonorejo Pasuruan. Di sana semua kejadian yang terjadi, saya ceritakan. Keesokan harinya setelah dibawa ke rumah sakit, saya diantar ke Wonorejo, Surabaya,” tuturnya.

Sejak itupula, pengalaman pahit itu mulai dilupakannya. Tetapi bayangan itu kembali melekat setelah Minggu (25/7) siang handphonenya berdering. Seorang pria yang mengaku petugas Polda Jatim mengabarkan berita gembira. ”Yang menculik saya tertangkap dan saya diminta datang ke sini untuk melihatnya. Ternyata dia memang yang membawa saya dulu,” kata Andini seusai melihat tersangka.

Otak pelaku perampasan disertai penculikan itu adalah Yudi Deka Pramana (30) warga Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto. Dia ditangkap Unit Resmob Polda Jatim yang dipimpin Kompol Heru Purnomo dari rumahnya ketika makan siang.

Reputasi Yudi dalam dunia kejahatan cukup banyak. Yudi ternyata pernah mencuri Honda CRV N 908 warna silver. Selain itu, dia juga pernah terlibat penggelapan mobil Suzuki Carry , dan pencurian Honda Supra X. ”Kami masih memburu 4 pelaku lainnya. Mudah mudahan cepat tertangkap,” ujarnya.(*)

Mar 17, 2008

Presiden Negeri yang Dirundung Bencana


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo. Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas. Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi).Pendidikan SR adalah pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah. Di kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri. SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun. Ini adalah sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968. Namun, lantaran terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Maka SBY pun sempat menjadi mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS). Namun kemudian, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung. SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, sangat menonjol. Terbukti, belaiu meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya. Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991). Gelar MA diperoleh dari Webster University AS. Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit. Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak. Kefasihan berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Kemudian sekembali ke tanah air, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat. Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 sekaligus praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. Kemudian mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)Lalu beliau dipercaya menjabat Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988) dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988), sebelum mengikuti pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI-AD (Seskoad) di Bandung dan keluar sebagai lulusan terbaik Seskoad 1989. SBY pun sempat menjadi Dosen Seskoad (1989-1992), dan ditempatkan di Dinas Penerangan TNI-AD (Dispenad) dengan tugas antara lain membuat naskah pidato KSAD Jenderal Edi Sudradjat. Lalu ketika Edi Sudradjat menjabat Panglima ABRI, beliau ditarik ke Mabes ABRI untuk menjadi Koordinator Staf Pribadi (Korspri) Pangab Jenderal Edi Sudradjat (1993).Lalu, beliau kembali bertugas di satuan tempur, diangkat menjadi Komandan Brigade Infantri Lintas Udara (Dan Brigif Linud) 17 Kujang I/Kostrad (1993-1994) bersama dengan Letkol Riyamizard Ryacudu. Kemudian menjabat Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995). Tak lama kemudian, SBY dipercaya bertugas ke Bosnia Herzegovina untuk menjadi perwira PBB (1995). Beliau menjabat sebagai Kepala Pengamat Militer PBB (Chief Military Observer United Nation Protection Force) yang bertugas mengawasi genjatan senjata di bekas negara Yugoslavia berdasarkan kesepakatan Dayton, AS antara Serbia, Kroasia dan Bosnia Herzegovina. Setelah kembali dari Bosnia, beliau diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya (1996). Kemudian menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda dan Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998) sebelum menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) ABRI (1998-1999).Sementara, langkah karir politiknya dimulai tanggal 27 Januari 2000, saat memutuskan untuk pensiun lebih dini dari militer ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Tak lama kemudian, SBY pun terpaksa meninggalkan posisinya sebagai Mentamben karena Gus Dur memintanya menjabat Menkopolsoskam. Pada tanggal 10 Agustus 2001, Presiden Megawati mempercayai dan melantiknya menjadi Menko Polkam Kabinet Gotong-Royong. Tetapi pada 11 Maret 2004, beliau memilih mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam. Langkah pengunduran diri ini membuatnya lebih leluasa menjalankan hak politik yang akan mengantarkannya ke kursi puncak kepemimpinan nasional. Dan akhirnya, pada pemilu Presiden langsung putaran kedua 20 September 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan mayoritas rakyat Indonesia dengan perolehan suara di attas 60 persen. Dan pada tanggal 20 Oktober 2004 beliau dilantik menjadi Presiden RI ke-6. (Dari Berbagai Sumber/pnri)
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com

Hobi

  • Membaca
  • Menulis

Usai Deadline

Powered by Blogger.

Sinung Pangupo Jiwo

Blitar, Jawa Timur, Indonesia

Tulisan Lama

Search This Blog